“Lima menit lagi.”
Kalimat tersebut itu mungkin terdengar familiar. Lima menit untuk melihat satu video, membalas satu pesan, mengecek Instagram, atau sekadar melihat apa yang sedang muncul di TikTok. Namun, tanpa terasa lima menit berubah menjadi 30 menit. Ketika melihat jam lagi, ternyata sudah hampir tengah malam.
Fenomena seperti ini semakin mudah ditemukan dalam keseharian pengguna media sosial. TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts menawarkan aliran konten yang seolah tidak pernah habis. Satu video selesai, pengguna hanya perlu menggulir layar untuk menemukan konten berikutnya. Artikel Memorandum Disway juga menyoroti bahwa fitur seperti infinite scrolling, rekomendasi konten, dan video pendek membuat aktivitas scrolling tidak memiliki titik akhir yang jelas.
Hal inilah yang menjadi pembeda media sosial dengan bentuk hiburan lainnya. Ketika satu video selesai, video berikutnya langsung tersedia yang membuat keputusan untuk berhenti sepenuhnya berada di tangan pengguna. Namun, pada saat yang sama, pengguna terus mendapatkan rangsangan baru yang membuat mereka penasaran dengan apa yang akan muncul selanjutnya.
Rasa penasaran menjadi salah satu penyebab mengapa kita tidak bisa berhenti untuk scrolling karena kita tidak pernah tahu video apa yang akan muncul setelah video yang kita tonton. Karena selalu ada kemungkinan menemukan sesuatu yang menarik, kita terdorong untuk terus menggulir. Akhirnya, aktivitas scrolling bukan hanya tentang konten yang sedang dilihat, tetapi juga tentang menunggu konten berikutnya. Inilah yang membuat lima menit bisa terasa berbeda dari lima menit ketika kita melakukan aktivitas lain. Kita merasa hanya melihat beberapa konten, padahal waktu terus berjalan.

Algoritma yang Membantu Menentukan Apa yang Kita Lihat
Pengalaman setiap orang ketika membuka media sosial juga tidak selalu sama. Hal ini berkaitan dengan sistem rekomendasi yang digunakan oleh berbagai platform digital. Konten yang muncul di beranda biasanya dipengaruhi oleh berbagai bentuk interaksi pengguna, seperti video yang ditonton, konten yang disukai, akun yang diikuti, hingga jenis konten yang sering dilewati atau ditonton lebih lama.
Akibatnya, semakin sering seseorang berinteraksi dengan topik tertentu, semakin besar kemungkinan mereka menemukan konten serupa. Hal ini membuat aktivitas scrolling menjadi sangat mudah dilakukan. Kita tidak perlu menentukan apa yang ingin ditonton berikutnya karena platform sudah menyediakan pilihan berikutnya.
Scrolling Menjadi Kebiasaan Sebelum Tidur
Artikel Memorandum Disway mencatat bahwa kebiasaan scrolling menjelang tidur menjadi perhatian karena penelitian pada kelompok remaja dan dewasa muda menemukan adanya hubungan antara durasi penggunaan media sosial yang lebih lama sebelum tidur dengan beberapa gangguan kualitas tidur, meskipun hasil penelitian dapat berbeda tergantung kondisi dan pola penggunaan.
Alasan lainnya adalah malam mungkin menjadi satu-satunya waktu yang terasa benar-benar bebas setelah menjalani aktivitas seharian.
Beberapa cara sederhana dapat dicoba, seperti menetapkan batas waktu penggunaan aplikasi, mengaktifkan pengingat waktu layar, atau menjauhkan ponsel dari tempat tidur.

