Bandung, 31 Oktober 2026. Menguatkan komitmennya dalam memperluas wacana dan praktik seni yang terbuka, ARTJOG melalui salah satu programnya, Love🤟ARTJOG, bekerja sama dengan Tab Space dan dotHub Space, menyelenggarakan pameran bertajuk “IN MEDIO” di Dia.Lo.Gue @dotHub Space, Bandung. Pameran yang berlangsung dari 31 Oktober hingga 29 November 2026 ini merupakan muara dari rangkaian residensi seniman yang sebelumnya dilaksanakan di Yogyakarta.
Kehadiran program Love🤟ARTJOG bermula dari pembentukan Pusat Layanan Disabilitas pada 2023 sebagai salah satu perwujudan visi inklusivitas yang diusung oleh ARTJOG. Saat itu, perannya masih berfokus pada penyediaan fasilitas bagi pengunjung dengan disabilitas selama pelaksanaan ARTJOG. Platform ini kemudian berkembang untuk mendorong kesadaran publik serta memperluas wacana tentang seni dan disabilitas. Komitmen tersebut kemudian diwujudkan secara nyata, salah satunya melalui program residensi seni. Program Love🤟ARTJOG sendiri telah dua kali menghadirkan agenda residensi seni, dan tahun ini Love🤟ARTJOG memperluas jaringan kolaborasinya melalui kerja sama dengan Tab Space, sebuah social enterprise yang memfasilitasi seniman disabilitas sebagai praktisi profesional, serta dotHub Space, ruang kolaborasi inklusif yang dirancang untuk mempertemukan seni, desain, dan budaya.

Agenda residensi seniman Love🤟ARTJOG menggandeng Ace House Collective, kolektif seni independen asal Yogyakarta, sebagai fasilitator. Lima seniman yang terlibat dalam proses kreatif ini adalah Clara Vania (Yogyakarta), Dewi Nurlaela (Jakarta), Ilham Sadikin (Bandung), Septa Anggitayuda (Bogor), dan Zakka Nurul Giffani Hadi (Yogyakarta). Selama sepuluh hari, mereka dipertemukan dengan seniman, kolektif seni, dan ruang-ruang seni independen di Yogyakarta untuk mendorong pertukaran pengetahuan dan eksperimentasi artistik.
Dalam teks pamerannya, Ace House Collective menuliskan bahwa residensi merupakan ruang bagi seniman untuk memperluas pengamatan, menguji pendekatan, dan mendalami praktik berkarya melalui perjumpaan dengan lingkungan baru. Yogyakarta di sini menjadi konteks sekaligus titik berangkat untuk meninjau kembali gagasan, mengeksplorasi medium, dan membuka kemungkinan artistik baru. Perjalanan melintasi batas-batas material maupun gagasan pun termanifestasi dalam karya-karya mereka.
Perjumpaan tersebut melahirkan respons artistik yang beragam. Ilham Sadikin merakit ulang fragmen arsitektur, transportasi, dan tradisi Yogyakarta menjadi figur robotik mekanis, sebuah pendekatan yang terhubung dengan eksplorasi Zakka Nurul Giffani Hadi dalam menghadirkan wacana kesetaraan antara komunitas Tuli dan Dengar melalui simbolisme robot dan keindahan metamorfosis kupu-kupu. Sementara itu, narasi tentang ruang aman dan intim hadir melalui eksplorasi fotografi Clara Vania yang memadukan bahasa isyarat dan teknik melukis untuk merekonstruksi makna rumah. Septa Anggitayuda mengabadikan ingatan emosional hubungan bapak dan anak melalui teknik cyanotype sebelum mengekspansi bahasa visualnya ke dalam skala mural sepanjang enam meter. Sedangkan praktik Dewi Nurlaela mempertemukan kolase fisik dengan citra digital untuk menguji relasi tubuh dan pikiran di tengah kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan teknologi.
Melalui serangkaian proses ini, pameran IN MEDIO memosisikan residensi bukan sekadar sebagai proses penciptaan karya, melainkan sebagai sarana distribusi pengetahuan yang menempatkan praktisi disabilitas pada posisi yang setara. Ruang presentasinya pun dirancang agar inklusif dan dapat diakses sepenuhnya oleh semua lapisan masyarakat. Penyelenggaraan pameran di Bandung ini merupakan upaya ARTJOG untuk membangun ekosistem seni yang inklusif sekaligus memperluas
jejaringnya di luar Yogyakarta.

