Film horor slasher klasik kembali menggebrak layar lebar. “I Know What You Did Last Summer” versi 2025 hadir sebagai legacy sequel yang mencoba menyatukan nostalgia masa lalu dengan sensibilitas modern. Sutradara Jennifer Kaytin Robinson mengambil alih kendali untuk memberikan nafas baru pada franchise yang sempat tertidur selama hampir tiga dekade.
Cerita yang Familiar dengan Twist yang Modern
Film ini mengikuti formula yang sudah familiar bagi penggemar. Sekelompok remaja Southport generasi baru terlibat dalam tragedi yang mengubah hidup mereka selamanya. Kali ini, protagonis utama adalah Ava (Chase Sui Wonders) yang berperan sebagai kompas moral kelompok, mirip dengan Julie James di film aslinya.
Karakter-karakter lainnya juga memiliki paralelisme yang jelas. Danica (Madelyn Cline) mengambil peran sebagai “Croaker Queen” yang berpacaran dengan Teddy (Tyriq Withers), anak dari keluarga kaya. Sementara itu, Milo (Jonah Hauer-King) hadir sebagai love interest Ava. Yang menarik, kali ini ada tambahan karakter kelima, Stevie (Sarah Pidgeon), yang memberikan dinamika baru dalam grup.
Kelima remaja ini berkumpul untuk merayakan pertunangan Danica dan Teddy. Namun malam yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi mimpi buruk ketika mereka mabuk-mabukan di pinggir jalan dan menyebabkan sebuah mobil jatuh.
Berbeda dengan film asli, kali ini peran “penabrak dan tertabrak” ditukar, tapi konsekuensinya tetap sama: pesan misterius “I Know What You Did Last Summer” mulai berdatangan.
Perbaikan pada Elemen Misteri
Salah satu keunggulan utama film ini adalah perhatian yang lebih besar terhadap elemen misteri whodunit. Jennifer Kaytin Robinson dan Leah McKendrick, selaku penulis naskah, berhasil memperbaiki aspek yang terasa setengah matang di film orisinal. Jumlah tersangka diperbanyak dan identitas pembunuh dikemas dengan lebih rapi.
Legacy sequel ini juga menghadirkan kembali karakter-karakter ikonik. Julie (Jennifer Love Hewitt) dan Ray (Freddie Prinze Jr.) kembali dengan peran sebagai penasihat untuk generasi baru. Yang lebih mengejutkan, Helen Shivers (Sarah Michelle Gellar) “dihidupkan kembali” menggunakan metode yang cukup cerdik untuk ukuran film slasher remaja.
Eksekusi Pembunuhan yang Lebih Kreatif
Meskipun masih belum sebrutal rekan-rekan sejawatnya dalam genre slasher modern, “The Fisherman” versi 2025 menunjukkan kretivitas yang lebih tinggi. Robinson tidak terjebak dalam zona aman dan memberikan kebebasan lebih pada karakter pembunuh untuk lebih bersenang-senang dengan korbannya.
Metode pembunuhan kali ini lebih bervariasi dan saddis. Pembunuh tidak hanya membunuh, tetapi juga memajang tubuh korban seperti karya seni yang menyeramkan. Jumlah korban juga berlipat ganda dibanding film asli, meskipun hal ini kadang terasa seperti cara untuk menunda kematian karakter utama.
Yang menarik, kali ini tidak hanya mreka yang terlibat langsung dalam kecelakaan yang menjadi target. Orang-orang di sekitar mereka juga terancam, namun naskah memberikan alasan yang lebih masuk akal untuk ekspansi target ini.
Plot Twist Kontroversial di Babak Ketiga
Bagian paling menarik dari film ini adalah twist di babak ketiga yang berpotensi memicu kontroversi di kalangan penggemar. Twist ini mengungkapkan bahwa serangkaian pembunuhan bukan sekadar soal balas dendam, melainkan dampak dari trauma berkepanjangan yang melahirkan sosok psikopat mematikan.
Dari sinilah Robinson dan McKendrick menyelipkan isu gender ke dalam narasi. Film ini mengeksplorasi bagaimana keengganan laki-laki untuk menangani trauma secara sehat atas nama maskulinitas justru membuat mereka lebih rapuh. Sebaliknya, perempuan digambarkan sebagai figur yang lebih kuat karena lebih terbuka dalam menghadapi luka emosional.
Representasi Perempuan yang Lebih Kuat
Salah satu aspek paling revolusioner dari film ini adalah cara ia menolak memposisikan perempuan sebagai korban dalam tradisi slasher yang sudah klise. Di musim panas 2025, perempuan bukan lagi final girl yang selamat karena keberuntungan, tapi penyitas sejati yang aktif melawan ancaman.
Pendekatan ini cukup “ekstrem” untuk ukuran franchise yang sebelumnya cenderung konvensional. Namun hal ini memberikan dimensi baru yang segar dan relevan dengan sensibilitas modern.
Film ini menjadi sequel legacy yang lebih menyenangkan dan berani dibanding pendahulunya. Jennifer Kaytin Robinson berhasil mempertahankan nostalgia sambil menghadirkan inovasi yang meaningful.
Meskipun masih ada ruang untuk perbaikan dalam hal kreativitas pembunuhan dan pacing, film ini layak diapresiasi karena keberaniannya mengangkat isu-isu kontemporer. Bagi penggemar fanchise lama, ini adalah comeback yang cukup memuaskan. Sementara untuk penonton barum film ini menawarkan pintu masuk yang solid ke dunia Southport yang menyeramkan.
Film ini membuktikan bahwa legacy sequel tidak harus sekadar mengandalkan nostalgia, tapi bisa menjadi platform untuk eksplorasi tema-tema yang lebih dalam dan relevan.

