Yogyakarta — Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (PUSBISINDO) D.I. Yogyakarta mengadakan peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII) 2026 dengan mengangkat tema “Mendeklarasikan Hak Asasi Manusia untuk Tuli”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 26 September 2026, pukul 08.00–17.30 WIB, di CollabHub by Paragon, GIK UGM, Yogyakarta.
Peringatan ini menjadi ruang untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahasa isyarat, budaya Tuli, serta pentingnya aksesibilitas dan kesetaraan bagi komunitas Tuli dalam kehidupan bermasyarakat.
Bahasa isyarat merupakan bahasa alami yang digunakan oleh komunitas Tuli untuk berkomunikasi, memperoleh informasi, sekaligus mengekspresikan identitas budaya. Pengakuan terhadap bahasa isyarat juga berkaitan erat dengan pemenuhan hak atas pendidikan, pekerjaan, layanan publik, serta partisipasi yang setara dalam berbagai aspek kehidupan.
Melalui tema “Mendeklarasikan Hak Asasi Manusia untuk Tuli”, HBII Yogyakarta 2026 menegaskan bahwa akses terhadap bahasa isyarat merupakan bagian dari hak asasi manusia dan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Menghadirkan Perspektif dan Karya Komunitas Tuli
HBII Yogyakarta 2026 menghadirkan serangkaian kegiatan yang meliputi gelar wicara, pameran karya seni seniman Tuli, bazaar UMKM Tuli, serta berbagai pertunjukan dan aktivitas interaktif.
Dalam gelar wicara, peserta diajak membahas berbagai isu mengenai hak dan kehidupan komunitas Tuli. Topik yang diangkat antara lain prinsip “Nothing About Us Without Us”, perjalanan perjuangan hak-hak Tuli, budaya Tuli, bahasa isyarat, hingga advokasi.
Sementara itu, pameran seni menampilkan karya seniman Tuli yang mengeksplorasi perspektif visual, estetika gerak tangan dalam bahasa isyarat, serta pengalaman dan ekspresi kehidupan Tuli.
Kegiatan ini juga memberikan ruang bagi pelaku UMKM Tuli untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk mereka kepada masyarakat. Interaksi tersebut diharapkan menjadi kesempatan bagi masyarakat Dengar untuk mengenal cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman Tuli secara lebih inklusif.
Selain itu, rangkaian acara diisi dengan berbagai kegiatan seperti live painting, teater musikal Tuli, penampilan seni, bincang seniman, games isyarat, serta pemutaran film dokumentasi persiapan HBII Yogyakarta 2026.

Mengajak Yogyakarta Menjadi Ruang yang Lebih Inklusif
Melalui peringatan HBII 2026, PUSBISINDO D.I. Yogyakarta ingin membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya bahasa isyarat dan aksesibilitas di ruang publik.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun “Deklarasi Yogyakarta Inklusif”, dengan mendorong masyarakat untuk melihat aksesibilitas bukan sebagai fasilitas tambahan, melainkan sebagai bagian dari hak setiap orang untuk berpartisipasi secara setara.
HBII Yogyakarta 2026 terbuka bagi masyarakat yang ingin belajar lebih jauh mengenai bahasa isyarat, budaya Tuli, serta pengalaman dan karya komunitas Tuli.
Tentang HBII Yogyakarta 2026
Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII) diperingati setiap 23 September sebagai bagian dari upaya global untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya bahasa isyarat bagi pemenuhan hak dan kehidupan masyarakat Tuli.
Peringatan ini merupakan bagian dari gerakan yang diperjuangkan oleh World Federation of the Deaf (WFD), organisasi internasional yang memperjuangkan hak dan kesejahteraan masyarakat Tuli di seluruh dunia.
Di Indonesia, semangat tersebut turut diwujudkan melalui Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (GERKATIN) bersama berbagai pihak yang bergerak dalam advokasi dan edukasi mengenai hak-hak Tuli serta bahasa isyarat.
Salah satunya adalah Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (PUSBISINDO), lembaga yang berfokus pada pendidikan dan pelestarian Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).

