
Film horror Korea Selatan kembali menghadirkan karya terbaru yang menarik perhatian. Ghost Train (2025) mengusung tema unik tentang obsesi media sosial dalam kemasan cerita hantu. Sutradara Tak Se-woong berhasil menghadirkan perspektif baru dalam genre horror urban.
Sinopsis Ghost Train: Kisah YouTuber Pencari Sensasi
Ghost Train mengisahkan Da Kyung (disebut juga Da Gyeong), seorang YouTuber horror yang mengalami krisis popularitas. Selain itu, jumlah subscribers-nya terus menurun drastis. Karena itu, dia memutuskan mencari konten horror yang benar-benar nyata.
Kemudian Da Kyung menemukan Stasiun Gwanglim yang menyimpan misteri. Di tempat tersebut terjadi serangkaian penghilangan orang secara misterius. Selanjutnya dia bertemu kepala stasiun yang menceritakan berbagai kisah horror.
Setiap cerita yang dia dengar memberikan views yang diinginkan. Karena itu Da Kyung terus kembali untuk mendengar lebih banyak kisah supernatural. Namun obsesinya terhadap popularitas online membawanya pada konsekuensi mengerikan.
Film berdurasi satu setengah jam ini menghadirkan format horror omnibus. Selain itu setiap cerita terhubung dengan alur utama yang melibatkan Da Kyung.
Pemeran Ghost Train
Joo Hyun-young memerankan Da Kyung, YouTuber horror ambisius yang menjadi tokoh utama pada film ini. Kemudian Jeon Bae-soo sebagai kepala stasiun, Choi Bo-min sebagai produser konten YouTube, Kim Ji-min sebagai pekerja convenience store.
Joo Hyun-yeong memberikan performa meyakinkan sebagai content creator yang putus asa. Di sisi lain, Jeon Bae-soo menghadirkan aura misterius sebagai pencerita kisah horror.
Benturan Digital vs Horror Tradisional
Ghost Train mengeksplorasi kontras antara media digital modern dan cerita hantu tradisional. Film ini juga mengkritik obsesi terhadap ketenaran online yang tidak sehat. Selain itu tema ini sangat relevan dengan fenomena YouTuber dan content creator masa kini.
Pendekatan Horror yang Unik
Film ini tidak menghadirkan jump scare klise seperti horror pada umumnya. Ghost Train menggunakan teknik horror urban yang lebih segar. Sutradara lebih fokus pada membangun atmosfer mencekam melalui storytelling.
Pendekatan omnibus memberikan variasi cerita dalam satu film. Di sisi lain, setiap segmen memiliki karakteristik horror yang berbeda. Kemudian foreshadowing cerdas menghubungkan semua elemen cerita.
Review dan Penerimaan Khusus
Ghost Train menerima respons beragam dari kritikus dan penonton. Beberapa kritikus mengapresiasi pendekatan horror yang tidak mainstream.
Kelebihan ini terletak pada konsep yang relevan dengan era digital. Acting dari para pemain cukup solid untuk genre horror Korea. Di sisi lain, beberapa segmen cerita masih terasa klise.
Durasi 94 menit terasa pas untuk mengembangkan setiap arc cerita. Karena itu penonton tidak merasa bosan dengan pacing yang tepat.
Ghost Train sebagai Horror Urban Modern
Ghost Train berhasil menghadirkan perspektif baru dalam horror Korea Selatan. Selain itu film ini mengangkat isu relevan tentang obsesi media sosial. Kemudian pendekatan horror urban memberikan nuansa segar dari ghost story tradisional.
Meskipun tidak sempurna, Ghost Train layak ditonton, terlebih bagi para pecinta horror Korea. Karena itu film ini cocok untuk yang menyukai konsep horror dengan twist modern. Tema YouTuber dan viral content membuatnya relateable untuk generasi digital.

