


Yogyakarta, 8 Maret 2026 — Selama sepuluh hari terakhir, sebuah sudut di Zona D (Art Gallery) GIK UGM Yogyakarta berubah menjadi ruang pertemuan berbagai elemen skena kreatif. Melalui Cherry District: Road to Cherrypop 2026, merchandise, buku, rilisan fisik, hingga art merchandise bertemu dalam satu lanskap yang hidup—tempat percakapan terjadi, karya dipertukarkan, dan komunitas saling berjumpa. Program pengantar menuju Cherrypop Festival ini berlangsung pada 27 Februari hingga 8 Maret 2026 dan berhasil menarik 14.228 pengunjung.
Cherry District menghadirkan ruang temu lintas ekosistem kreatif yang mempertemukan musik, literasi, seni visual, serta berbagai produk kreatif independen. Dalam penyelenggaraannya, program ini melibatkan lebih dari 20 band merchandise, 10 merch store, 10 penerbit buku, 10 record store, serta 50 art merchandise yang berpartisipasi meramaikan area pamer dan interaksi kreatif.
Kolaborasi lintas sektor ini juga terwujud melalui kerja sama dengan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Bursa Seni, Cherrymerch, dan Jogja Record Store Club.
Selain area pamer dan distribusi karya, Cherry District juga menghadirkan berbagai program yang memperkaya pengalaman pengunjung. Di antaranya Bioskop Musik, Kultum Skena, talkshow, spinning session, hearing session, live screen print, live sketch, hingga workshop. Program-program tersebut juga berkolaborasi dengan beberapa pihak dan komunitas yaitu Pehagengsi, Rekam Skena, Tutbek, Koloni Rekords, Debarbar, Skenu, Rupakara.room, dan Hunting Full Senyum.
Hari terakhir penyelenggaraan ditutup dengan sesi gigs yang menghadirkan penampilan band/musisi dari Yogyakarta di antaranya The Bunbury, Bleeedrz, Dabwok, dan Loomer. Gigs ini menambah semarak suasana penutupan Cherry District sekaligus menegaskan akar musik yang menjadi bagian penting dari ekosistem acara ini.
Penyelenggara menyebut Cherry District sebagai ruang penting untuk mempertemukan berbagai elemen dalam ekosistem kreatif yang selama ini menjadi bagian dari semangat Cherrypop.
“Cherry District kami bayangkan sebagai ruang temu yang lebih dekat antara publik dengan
berbagai pelaku di ekosistem kreatif—mulai dari musik, buku, hingga seni visual. Antusiasme yang terlihat selama sepuluh hari ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan ruang interaksi seperti ini masih sangat besar,” ujar Arsita Pinandita sebagai Creative Director Cherrypop.
Ia menambahkan bahwa energi dari pertemuan komunitas selama Cherry District menjadi
momentum penting menuju festival utama tahun ini.
“Melalui Cherry District, kami ingin membuka percakapan, mempertemukan komunitas, sekaligus merayakan praktik-praktik kreatif yang tumbuh di skena independen. Energi dari pertemuan ini menjadi bekal penting menuju Cherrypop tahun ini,” tambahnya.
Sebagai program pengantar menuju Cherrypop, Cherry District memperlihatkan bahwa skena kreatif tidak hanya hidup di atas panggung musik, tetapi juga di antara rak buku, tumpukan piringan hitam, lembar kaso merchandise yang lahir di ruang yang sama. Energi dari ruang temu ini menjadi pengantar menuju perayaan yang lebih besar ketika Cherrypop 2026 digelar pada 22–23 Agustus mendatang.

