Jogja bukan cuma soal gamelan dan angkringan. Di balik lorong Wijilan dan warnet-warnet kecil, ada ekosistem hip hop yang hidup dari kreativitas, solidaritas, dan keberanian buat keluar dari kotak. Cerita ini mengumpulkan obrolan santai dua figur dari skena Jogja: seorang DJ yang ngulik vinyl dan seorang rapper yang tumbuh dari grafiti tentang awal mula, proses berkarya, tur luar negeri, sampai bangkit dari masa sulit.
Semua bermula di titik kumpul sederhana: Wijilan. Anak-anak nongkrong di depan toko, masuk ke warnet bernama Hell House, main skate, dan nempel sama komunitas grafiti. Dari situ banyak yang belajar bikin beat, ngerap, dan bikin grup pertama.
Grafiti ternyata jadi pintu masuk ke industri buat beberapa orang. Selain coret-coretan di tembok, aktivitas itu mempertemukan skena skate, BMX, dan musik—sebuah ekosistem yang saling dukung.
Peran duo: DJ Paws dan Bacil — chemistry panggung
Di panggung mereka berdua saling melengkapi: satu DJ, satu rapper. Keduanya punya hubungan mutual: saat DJ main biasanya rapper ikut, dan sebaliknya. Chemistry seperti ini memudahkan improvisasi saat alat error atau mood lagu berubah mendadak.
- DJ: mengatur beat, mixing, bahkan merilis vinyl scratch 7-inch berisi acapella bahasa Indonesia dan Jawa.
- Rapper: menulis, perform, sering freestyle, dan membawa cerita lokal ke panggung.
Membuat beat dan workflow kreatif
Proses pembuatan musik bervariasi. Ada yang sampling lagu lawas, memotong bagian tertentu, lalu masukin drum dan bass. Ada juga yang mengerjakan scoring seperti soundtrack film. Kunci yang sering muncul: eksplorasi musik tanpa batas—dari dangdut sampai pop—sebagai referensi bikin karya baru.
Salah satu kendala yang sering dihadapi adalah keraguan teknis: mixing dan mastering yang bikin musisi nunda rilis. Namun, di era digital, keberanian untuk “upload aja dulu” sering jadi jalan keluar yang efektif.
Rilis karya: album, single, dan vinyl
Contoh nyatanya, sebuah album yang dikumpulkan sejak 2017 akhirnya dirilis secara digital: dari 21 karya dipilih 7 untuk menjadi volume pertama, dan rencana volume dua masih di cakrawala. Ada juga rilisan fisik berupa 7-inch vinyl scratch—langkah yang menunjukkan kecintaan pada medium klasik DJ.
Tur internasional: dari DM Instagram sampai promotor
Pengalaman tur 2024 menunjukkan pendekatan gerilya yang jujur: mencari venue, komunitas, dan kontak lewat DM Instagram. Mereka berkirim pesan, menawarkan konsep pertunjukan, dan menutup beberapa acara secara mandiri. Modal awal sering kali berasal dari kantong sendiri, lalu dikombinasikan dengan proposal ke brand yang akhirnya ikut mendukung.
Setahun setelah tur mandiri, pada 2025 mereka mulai bekerja sama dengan promotor—agensi seni yang punya koneksi ke galeri dan jaringan acara di luar negeri. Hasilnya: logistik lebih ter-cover, tapi tetap mempertahankan identitas artistik.
Pelajaran praktis kalau mau tur luar negeri
- Buat portfolio konten: video panggung, dokumentasi perform, dan konsep pertunjukan. Konten adalah “senjata” untuk pitching.
- Jalin komunikasi lokal: DM komunitas, cari venue kecil, dan tawarkan kerjasama—mulai dari kafe sampai galeri.
- Siapkan proposal: ringkas, profesional, dan tunjukkan value yang kalian bawa.
- Hati-hati dengan asumsi: promotor di luar negeri sering mengira musisi dari luar negeri berarti sudah “besar”. Manfaatkan persepsi itu tanpa kehilangan integritas.
Branding dan konten: kenapa itu penting
Ketika ingin tampil di panggung internasional atau kerja sama dengan brand, bukan sekadar “bisa manggung” yang dilihat. Yang menonjol adalah konsistensi karya dan konten. Banyak konten berkualitas membuat proses pitching dan negosiasi jadi lebih mudah—promotor dapat melihat apa yang mereka dapatkan.
Bangkit setelah kecelakaan: solidaritas skena Jogja
Salah satu cerita paling kuat adalah tentang seorang rapper yang mengalami kecelakaan pada 2019, kehilangan teman, dan sempat berhenti berkarya karena trauma dan panic attack. Titik balik datang dari dukungan komunitas: acara charity bernama “Lanjutkan” diselenggarakan oleh rekan-rekan dan fans untuk memulihkan semangatnya.
Acara itu kecil lalu berkembang: pada seri berikutnya menarik ribuan orang—bukti betapa kuatnya kultur gotong royong di Jogja. Dukungan keluarga, sahabat, dan skena menjadi bahan bakar untuk kembali berkarya.
Kebosanan, variasi perform, dan konsep panggung
Bosen itu normal—bukan pada musik, tapi pada format perform yang itu-itu saja. Solusinya: eksplorasi konsep panggung, tambahan elemen visual, kolaborasi lintas genre, atau perubahan setlist. Mereka berdua sering berdiskusi untuk menjaga agar setiap pertunjukan tetap “masih mereka”.
Freestyle dan battle culture
Freestyle di Jogja hidup—dari battle rap kompetitif sampai sesi santai. Bagi beberapa rapper, battle adalah ruang latihan bahasa, ritme, dan keberanian. Meski ada yang kini memilih tidak lagi ikut battle, kultur itu tetap jadi bagian penting pembelajaran bagi generasi baru.
Pesan untuk pegiat hip hop
- Hidupi apa yang menghidupimu. Kalau hip hop yang memberi kalian kehidupan, pikirkan cara balik menghidupkan skena lewat karya dan kolaborasi.
- Perbanyak konten dan karya. Konten adalah kartu nama digital yang menjawab: siapa kalian dan apa yang kalian bawa.
- Bangun komunitas. Sukses individual penting, tapi solidaritas lokal sering jadi fondasi kebangkitan setelah masa sulit.
- Jangan takut bereksperimen. Dari dangdut sampai scoring film—open-mindedness memperkaya referensi dan warna musik.
Hip hop Jogja adalah cerita tentang kerja keras, kreativitas tanpa malu, dan komunitas yang saling mengangkat. Dari warnet Hell House sampai panggung di luar negeri, perjalanan ini menunjukkan bahwa dengan konten yang kuat, jaringan yang jujur, dan keberanian untuk mencoba, skena lokal bisa dilihat dunia. Harapannya sederhana: semoga hip hop Indonesia makin maju, dikenal luas, dan terus jadi medium bercerita yang relevan.

