Home » Bincang-Bincang Barley Bersama Oky Yamman : Bravesboy, Drum & Bass

Bincang-Bincang Barley Bersama Oky Yamman : Bravesboy, Drum & Bass

Oky Yamman saat ngobrol bareng ari Ugoki dan Rendy di Barley & Barrel Oky Yamman saat ngobrol bareng ari Ugoki dan Rendy di Barley & Barrel

Oky adalah bassist Bravesboy, grup Jamaican Sound alias ska dari Yogyakarta yang aktif sejak 2009. Bravesboy memadukan ska ceria dengan sentuhan reggae groove itu ciri khas mereka. Dalam formasi band, Oky mengisi bass sementara Nazat dan Bima pada vokal, Miga Sadewa pada gitar, dan Andri Lexcution pada drum.

Oky tumbuh di lingkungan seni. Ayahnya pernah bermain di band lokal, dan itu menjadi jendela pertama Oky ke dunia musik. Awalnya ia lebih tertarik pada drum bahkan ia left-handed saat bermain drum—namun ketika kembali ke Yogyakarta setelah beberapa tahun di Jakarta, ia bergeser ke depan panggung sebagai bassist.

Alasan sederhana: ingin lebih terlihat di depan. Ternyata bass bukan sekadar alat sederhana “dang-ding”; eksplorasinya justru membuka level teknis dan musikal yang lebih dalam. Oky belajar banyak dengan menonton performance pemain lain lalu meracik gaya sendiri, menggabungkan pengaruh ska, rock, dan elemen teatrikal.

Advertisements

Salah satu cerita panggung yang ia ingat: sedang tampil di Yogya, senar bass putus di tengah lagu. Tak sempat kembali ke belakang panggung, ia terus main dengan lagu intro sampai lagu berikutnya sambil panik. Untuk melanjutkan, ia meminjam bass 5-string dari kru. Peralihan itu membuat keringat dingin, karena feeling dan posisi berubah, tetapi penampilan harus tetap jalan.

Selain kegiatan di Bravesboy, Oky merilis karya solo yang terasa lebih personal. Salah satu tema sentralnya adalah isu pengangguran fenomena yang banyak menyentuh anak muda lulusan perguruan tinggi. Lagu berjudul Pengangguran hadir sebagai bentuk empati dan dorongan motivasi, bukan sekadar mengeluh.

Ide itu berkembang menjadi beberapa bagian atau sekuel mencerminkan fase dan pergulatan berbeda yang dihadapi orang yang sedang mencari arah pekerjaan. Respons audiens positif; beberapa pendengar bahkan berbagi info lowongan kerja setelah mendengar lagu tersebut. Itu menunjukkan bagaimana musik bisa mendorong solidaritas praktis, bukan cuma emosi.

Oky juga mengeksplorasi tema spiritual. Ia bekerja sama dengan tokoh seperti Gus Peng (Gepeng Kesana Kesini) untuk membuat lagu bernuansa religius, salah satunya berjudul Jalur Langit. Konsepnya menarik karena mencoba membingkai elemen religius dengan cara yang provokatif ada unsur metaforik seperti “jawaban ada di jalur langit” yang memberi ruang interpretasi luas.

Salah satu karya lain adalah konsep “doa tipu tipu” sebuah eksperimen lirik yang bermain dengan bahasa dan makna untuk menyentil realitas sosial. Proses ini dilakukan cepat, seringkali saat momen Ramadan atau suasana religius yang menginspirasi.

Oky bukan tipe musisi yang hanya mengandalkan teori. Ia banyak belajar dengan menonton pemain laindari musisi ska internasional seperti Tokyo Ska Paradise Orchestra hingga bassist lokal lalu mencampur gaya tersebut menjadi ciri khasnya sendiri. Pendekatan ini membuat permainan basnya terasa organik dan relevan dengan karakter Bravesboy namun tetap punya warna personal.

Ketika ditanya soal maraknya dangdut modern, Oky menekankan pentingnya fleksibilitas. Alih-alih mengkotak-kotakkan genre, musisi harus melihat pasar dan menyesuaikan diri. Bravesboy misalnya tak keberatan mengisi panggung yang mayoritas penonton menyukai dangdut intinya adalah bagaimana menyampaikan energi dan menjaga koneksi dengan audiens.

Untuk Oky, lama pembuatan lagu bergantung pada tema. Ada yang bisa lahir cepat, ada yang perlu waktu. Kebiasaan kreatifnya mencakup warm-up, berkolaborasi, dan mencoba berbagai tekstur musik. Ia mengatakan bahwa ia tidak cepat puas; terus mencoba dan berinovasi adalah bagian dari kerja seni.

Yogyakarta dikenal sebagai kota yang solid antar-musisi. Contoh nyatanya: konser amal yang melibatkan bands, kru sound, dan vendor tanpa pamrih untuk menggalang dana bantuan. Event seperti ini bisa mengumpulkan donasi signifikan dan menunjukkan kekuatan kebersamaan komunitas musik lokal.

Perjalanan Oky menunjukkan bahwa menjadi musisi bukan sekadar memainkan instrumen. Ini soal keberanian mencoba, kemauan belajar dari siapa saja, solidaritas komunitas, dan kemampuan untuk tetap produktif sambil terus bereksperimen. Bagi siapa pun yang menekuni musik baik di Yogyakarta atau di tempat lain kisah ini mengingatkan: terus berkarya, tetap rendah hati, dan jangan ragu beradaptasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *