Home » Heart Pictures Siapkan Tiga Film Lintas Genre untuk 2026 — Berbeda Nuansa, Satu Benang Merah: Cerita yang Jujur, Berakar, dan Bermakna

Heart Pictures Siapkan Tiga Film Lintas Genre untuk 2026 — Berbeda Nuansa, Satu Benang Merah: Cerita yang Jujur, Berakar, dan Bermakna

Yogyakarta, 29 November 2025 — Heart Pictures resmi mengumumkan 3 film terbarunya yang akan dirilis mulai 2026, masing-masing berasal dari genre yang berbeda, mulai dari drama romantis Black Coffee, horor psikologis Dowa Juseyo, dan musikal keluarga Sahabat Anak. Meski berbeda genre, ketiganya mengusung cerita yang kuat, merefleksikan masyarakat yang kaya dengan realitas manusia, menghembuskan budaya, serta menghadirkan ruang representasi yang lebih dekat dengan Imajinasi Indonesia.

Peluncuran tiga karya ini menandai langkah strategis Heart Pictures dalam memperluas spektrum cerita di industri film Indonesia, sekaligus memperkuat posisi studio sebagai rumah produksi yang dekat berkepribadian serta membuka ruang representasi baru.

Advertisements

Black Coffee Resmi Selesai Syuting — Merayakan Identitas Lokal di Layar Global

Film drama terbaru Black Coffee karya Jeremias Nyangoen telah resmi menyelesaikan proses syuting dan memasuki tahap pasca produksi akhir. Mengangkat cinta, kehilangan, dan identitas, Black Coffee mengeksplorasi perjalanan seorang penyanyi tunanetra asal Gayo, Aceh. Ontaon dan Oya — dua karakter utama — mengajarkan bagaimana mengenang dan kerinduan untuk memiliki ketulusan.

“Saya ingin penonton merasakan kehilangan, ruang kosong, dan kekuatan cinta yang tetap hidup meski dalam keterbatasan,” — Jeremias Nyangoen, Sutradara Black Coffee

Diperankan oleh aktor Reza Rahadian dan Sha Ine Febriyanti, film ini menawarkan performa yang intens, intim, dan penuh kedalaman emosional; merasakan dunia dari perspektif karakter yang tidak melihat, tetapi sangat merasakan melalui bahasa tubuh, suara, sentuhan, dan dunia yang berbicara. Asmara Abigail diajak untuk merayakan budaya Gayo yang kental dengan rasa kekeluargaan.

Proses produksi dilakukan di Takengon, Aceh dan perkebunan kopi Gayo, salah satu daerah kopi paling berpengaruh di Indonesia. Lokasi tampil bukan sekadar sebagai ruang visual, tetapi sebagai bagian dari karakter film itu sendiri.

Film ini juga melibatkan aktor lokal seperti Kabri Wali dan Hafidz Al-Mukhtaria, guna memastikan representasi budaya Aceh dibangun dengan autentik, relevan, dan penuh hormat. Black Coffee berharap akan menjajaki Festival Film Internasional pada pertengahan 2026, sebelum rilis melalui jaringan bioskop nasional dan platform global.

Dowa Juseyo: Kolaborasi Baru di Dunia Film Horor Psikologis

Melangkah ke genre berbeda, Heart Pictures memperkenalkan film horor psikologis Dowa Juseyo, yang kini memasuki tahap pengembangan lebih lanjut. Film ini menggabungkan elemen investigasi emosional, budaya Korea Selatan, dan isu sosial yang sensitif.

Cerita mengikuti Tania, mahasiswi pertukaran pelajar dari Indonesia yang suatu saat terhubung dengan roh Min Yong, korban kekerasan seksual yang meninggal tanpa keadilan. Hubungan mereka memicu rangkaian peristiwa supernatural yang memaksa Tania menghadapi pertanyaan “apakah balas dendam dapat menjadi bentuk keadilan?”

Film ini disutradarai oleh Nur Muhammad Taufik dan Shahfasyat Bianca, dua sutradara muda dengan pendekatan visual modern dan naskah yang bertajuk psikologi karakter. Lokasi syuting dilakukan di Busan, Korea Selatan, dengan sentuhan estetika urban, tradisi, dan ruang-ruang intim.

Dalam tahap promosi dan mengutamakan cerita dan visual yang kuat, film ini dijadwalkan menjadi salah satu film produksi besar Heart Pictures yang menghadirkan kolaborasi profesional Indonesia–Korea Selatan dengan segar dan berwawasan.

“Dowa Juseyo bukan hanya sekedar film horor, tetapi jendela untuk bicara dengan pesan moral dan memberikan sentuhan baru untuk genre horor di Indonesia, kami ingin film ini bukan hanya memberikan sensasi ketakutan, pesan besarnya adalah bagaimana cinta dapat mengatasi dendam.”
— Herty Purba, Executive Producer Heart Pictures

Sahabat Anak: Film Musikal Inspiratif Keluarga

Film ketiga, Sahabat Anak, akan menjadi wajah yang lebih cerah dalam rangkaian film 2026, terinspirasi dari perjalanan dan dedikasi Kak Seto dalam memperjuangkan hak anak Indonesia. Film ini dirancang sebagai tontonan keluarga yang menyenangkan sekaligus mendidik.

Disutradarai oleh Irham Acho Bahtiar, film ini memadukan elemen musikal, drama, dan fondasi psikologi anak. Lagu-lagu baru yang disiapkan menjadi jembatan emosional antara karakter, penonton, dan pesan film yang ringan diteliti, namun kuat di hati.

Film ini dibintangi Ajil Ditto sebagai Kak Seto muda dan Lutesha sebagai Dela, serta jajaran aktor cilik seperti: Afsheena Zerlina, Jabez Immanuel, Revan Hadi, Rasya Afi. Tema besar film ini adalah refleksi relevansi masa kini, dimana generasi muda menghadapi tantangan baru, kemarahan dalam identitas, perubahan budaya, dan dinamika keluarga modern. Format musikal dipilih agar pesan yang dalam dapat diterima dengan cara yang hangat, mudah diingat, dan menyentuh lintas generasi. Sahabat Anak dijadwalkan untuk tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada tahun 2026.

“Bagi saya, anak-anak adalah masa depan bangsa. Film ini bukan hanya hiburan, tetapi ajakan untuk mendengar suara anak dan menyadarkan keberadaan mereka. Saya berharap Sahabat Anak dapat menjadi ruang yang menghidupkan kembali kasih, kehangatan, keberanian, dan rasa percaya diri bagi para penonton muda.”
— Kak Seto dalam Media Visit di JAFF Market, JEC, Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *