Pernah nggak sih, kamu terlalu memikirkan pendapat orang lain sampai akhirnya takut menjadi diri sendiri? Atau merasa harus selalu terlihat baik, pintar, dan berhasil supaya bisa diterima orang lain? Kalau pernah, kamu mungkin bisa relate dengan cerita Riley dalam film Inside Out 2.
Film animasi produksi Pixar ini kembali mengajak penonton masuk ke dalam pikiran Riley yang kini mulai beranjak remaja. Seiring bertambahnya usia, Riley tidak hanya menghadapi perubahan dalam kehidupannya, tetapi juga berbagai emosi baru yang membuat pikirannya semakin ramai.
Ketika Anxiety Mulai Mengambil Alih
Salah satu karakter baru yang paling mencuri perhatian dalam Inside Out 2 adalah Anxiety atau kecemasan. Berbeda dari Joy yang ingin Riley merasa bahagia, Anxiety selalu berusaha mempersiapkan Riley untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
Awalnya, Anxiety hanya ingin membantu Riley agar tidak mengalami kegagalan atau membuat kesalahan. Namun, keinginannya untuk mengendalikan segala sesuatu justru membuat Riley semakin tertekan.
Hal ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika kita terus memikirkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita, takut salah saat berbicara, atau khawatir tidak bisa memenuhi harapan orang sekitar.
Tanpa disadari, kita bisa terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Kita ingin semuanya berjalan sempurna karena takut mengecewakan orang lain. Padahal, tidak semua hal bisa kita kendalikan.
Keinginan untuk Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri
Dalam film ini, Riley juga berusaha menyesuaikan dirinya agar bisa diterima oleh lingkungan barunya. Ia ingin berteman dengan orang-orang yang dianggap keren dan berharap bisa menjadi bagian dari kelompok tersebut.
Keinginan itu membuat Riley mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Ia berusaha mengubah sikap dan tindakannya demi mendapatkan penerimaan dari orang lain.
Bukankah hal ini juga sering terjadi di kehidupan nyata?
Di media sosial, misalnya, kita melihat orang lain mendapatkan prestasi, memiliki banyak teman, atau menjalani kehidupan yang terlihat menyenangkan. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri sendiri dengan mereka.
Kita merasa harus lebih pintar, lebih menarik, lebih produktif, atau lebih sukses agar tidak tertinggal. Akhirnya, kita justru lupa menghargai diri sendiri dan terlalu fokus mengejar standar yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan kita.
Padahal, menjadi versi terbaik dari diri sendiri bukan berarti harus selalu lebih unggul dari orang lain. Kita tetap bisa berkembang tanpa harus membenci diri kita yang sekarang.
Semua Emosi Punya Perannya Masing-Masing
Selain Anxiety, Inside Out 2 juga memperkenalkan emosi baru seperti Envy (iri), Embarrassment (malu), Ennui (bosan atau merasa tidak tertarik), dan Nostalgia.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa semakin bertambah usia, semakin beragam pula perasaan yang kita alami. Ada kalanya kita merasa bahagia, tetapi juga iri dengan pencapaian orang lain. Ada saatnya kita percaya diri, tetapi tiba-tiba merasa malu atau takut dinilai.
Menariknya, film ini tidak menggambarkan semua emosi negatif sebagai sesuatu yang harus dihindari. Rasa cemas, malu, dan iri merupakan bagian dari pengalaman manusia. Perasaan tersebut bisa memberi tahu kita tentang hal-hal yang sedang kita khawatirkan atau inginkan.
Namun, kita juga perlu belajar memahami perasaan tersebut agar tidak terus-menerus dikendalikan olehnya.
Seperti yang terjadi pada Riley, berusaha menekan atau mengendalikan semuanya justru membuat keadaan semakin rumit. Kita tidak harus selalu bahagia setiap saat, dan merasa sedih atau cemas bukan berarti kita gagal menjalani hidup.
Tidak Harus Sempurna untuk Bisa Menerima Diri Sendiri
Salah satu pelajaran yang bisa diambil dari Inside Out 2 adalah bahwa diri kita tidak hanya dibentuk oleh satu jenis perasaan atau satu sisi kepribadian.
Kita bisa menjadi orang yang percaya diri sekaligus mudah khawatir. Kita bisa merasa bangga dengan pencapaian sendiri, tetapi terkadang masih membandingkan diri dengan orang lain. Semua itu tidak membuat kita menjadi orang yang buruk.
Kita juga tidak harus selalu terlihat kuat atau baik-baik saja di hadapan orang lain. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak, mengenali apa yang sedang dirasakan, dan menerima bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai rencana.
Pada akhirnya, bertumbuh bukan berarti menghilangkan semua kekurangan atau memastikan kita tidak pernah melakukan kesalahan. Bertumbuh berarti belajar memahami diri sendiri, termasuk saat kita sedang merasa takut, bingung, atau tidak percaya diri.
Inside Out 2 mengingatkan kita bahwa menjadi diri sendiri bukan tentang memenuhi semua harapan orang lain. Kita tetap berharga meskipun belum mencapai semua hal yang kita inginkan.
Jadi, kalau belakangan ini kamu merasa tertinggal, terlalu banyak berpikir, atau terus berusaha menjadi sempurna, mungkin kamu hanya perlu memberi dirimu sedikit ruang untuk bernapas.
Sebab, kamu tidak harus menjadi sempurna untuk bisa terus bertumbuh.

